//
archives

Iman

This category contains 5 posts

OMI di Kaliori

Sajian Utama:

Keuskupan Purwokerto merupakan ladang pertama Kongregasi Oblat Maria Immaculata (OMI), yang datang ke Indonesia tahun 1971. Untuk mendekatkan diri pada pelayanan kaum miskin dan umat padalaman, maka OMI banyak berkarya di pedesaan dan pedalaman di Jawa Tengah, dan Kalimantan Timur. Kini kepemimpinan OMI dipercayakan kepada imam putra pribumi Indonesia sendiri. Calon-calon imam OMI pribumi pun terus bertambah. Bagaimana sepak terjang OMI Indonesia dengan provinsialatnya di Kaliori, Purwokerto? Baca laporan liputan kami.

KUTIPAN LEAD SAJIAN UTAMA (SAJUT):

Bersukacita di Pedalaman

Akhirnya, misionaris Oblat Maria Immaculata (OMI) tiba juga di Indonesia. Mereka mengawali karyanya di Keuskupan Purwokerto, Jawa Tengah (Jateng) sejak 1971. Kini, karya OMI menyebar ke berbagai tempat. Masih terekam dalam ingatan banyak orang. Ketika itu, 1971, para Oblat (sebutan khas anggota OMI) dari Australia datang pertama kali di Keuskupan Purwokerto, Indonesia. Mereka mendapat tugas di Purwokerto Timur dan Cilacap. Di Cilacap, OMI tidak hanya membangun Gereja Katolik. Melalui Pastor Charles Patrick Burrows Carolus OMI (sering dipanggil Romo Charlie), mereka juga membangun…

Antonius Andri Atmaka OMI: OMI Tidak Menutup Mata

Sebuah regenerasi berhasil dilakukan di Provinsialat OMI Indonesia. Tongkat estafet dari para misionaris ke Oblat asli Indonesia sudah dan sedang berlangsung.HAL itu tak lepas dari banyaknya kaum muda Indonesia yang tertarik menjadi Oblat. Wajar, jika Pastor Antonius Andri Atmaka OMI (42), Oblat asli Indonesia, terpilih sebagai Provinsial OMI Indonesia. Romo Andri, kelahiran Sleman, Yogyakarta, 2 September 1967, dengan ramah menerima HIDUP di kediamannya, Provinsialat OMI Indonesia Kaliori, Banyumas…

Paroki Kecil untuk OMI Baca lebih lanjut

Kemelut PMKRI

Sajian Utama:

Lazimnya, organisasi-organisasi masyarakat memiliki nilai-nilai yang menyatukan para  anggotanya, termasuk di dalamnya organisasi kemahasiswaan PMKRI. Namun apa  yang terjadi? PMKRI kini malah mengalami defisit semangat persatuan. Solusinya belum ada? Masih dalam masa pembiaran dari pihak diam? Walau, ada suara dari mantan  dan anggotanya, sebut saja Masriana dan Petrus Dabu agar kemelut di PMKRI segera  diakhiri. Kemelut bisa diakhiri, kalau ada yang mengalah. Untuk mengetahui lebih  lanjut, simak laporan ini.

KUTIPAN LEAD SAJIAN UTAMA (SAJUT):

PMKRI Perlu Jiwa Besar

Pagi buta, sekitar pukul 05.00 pagi. Masri telah berada di Kereta Rel Listrik (KRL) dari  Depok, Jawa Barat. Dia membuka usaha kios di depan Stasiun Gondangdia, hasil jerih  payahnya setelah dia tidak aktif lagi di PMKRI. Masriana Manurung SE -akrab disapa  Masri – mengenal Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) ketika  masih menjadi mahasiswi di Medan, Sumatera Utara. Sebagai anggota baru PMKRI,  Masri adalah seorang yang pendiam. Ketika mulai masuk PMKRI, dia ditantang untuk  berani berbicara dan…

PMKRI dan Sumpah Pemuda

Pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai suku bangsa di Nusantara  mengikrarkan komitmen untuk menyatakan diri sebagai satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa, Indonesia. IKRAR itu menggelorakan semangat persatuan untuk mengusir bangsa kolonial di bumi Nusantara saat itu. Kata kunci yang selalu  diungkapkan dalam setiap momen peringatan Sumpah Pemuda adalah semangat  persatuan Indonesia. Semangat ini diyakini telah mengantarkan Indonesia pada  kemerdekaan dan menjadi kunci kelangsungan Indonesia sebagai Negara Kesatuan. Persatuan adalah spirit dari peristiwa…

Perubahan Tanpa Paksaan Baca lebih lanjut

Kami Ucapkan Selamat Ulang Tahun…

Untuk pembaca yang berulang tahun… kami ucapkan selamat…

Kebatinan Katolik

Majalah_HIDUP_Kebatinan_Katolik_0Sajian Utama:

Sejumlah orang Jawa Katolik tak ingin lepas dari hidup ke-jawen-nya, atau kejawaannya. Hidup yang lebih mendekatkan diri dan berpasrah pada kekuatan Yang ilahi, yakni Gusti Allah melalui teladan Yesus Kristus. Itulah yang dicari para peserta  Kebatinan Katolik yang setiap tahun berkumpul. Awal Oktober 2009 ini, mereka  mengadakan Temu Kebatinan (Tebat) ke-16 di Padepokan Kopi Eva Bedono,  Ambarawa, Jawa Tengah. Ikut mendampingi mereka sejumlah pastor, termasuk Ketua  Komisi HAK-KAS, Aloys Budi Purnomo Pr. Hasilnya? Simak laporan kami edisi ini.

KUTIPAN LEAD SAJIAN UTAMA (SAJUT):

Dari TEBAT ke Jumat Kliwonan

Menjadi Katolik, namun tetap dapat menjalankan tradisi spiritual Jawa (sering disebut kebatinan) tampaknya menjadi pilihan banyak orang Jawa. Temu Kebatinan (Tebat) Katolik di Keuskupan Agung Semarang (KAS) salah satu buktinya. A.T. Eddy Sambodo dari klinik penyembuhan alternatif Banyumanik, Semarang, Jawa Tengah,  menegaskan, manusia harus mengolah batinnya, agar lebih punya kepekaan. “Orang  Katolik justru harus memperdalam batinnya!” tandas Eddy yang ditemui HIDUP di  kediamannya sekaligus tempat praktik penyembuhan alternatif,…

Aliran Iman dari Taman Banyu Urip

Malam itu, Sabtu, 3/10, bulan hampir purnama. Angin semilir sesekali melintasi  Padepokan Kopi Eva, Bedono, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Seseorang melintas di atas hamparan bara api, kemudian dilanjutkan yang lain. Menyusul yang  lainnya lagi. Akhirnya, mereka bermain kereta-keretaan melintasi bara api yang bersuhu tinggi, tanpa menderita…

Temu Kebatinan, Gerakan Unggulan Baca lebih lanjut

Natal di Betlehem

Majalah-HIDUP-Natal-di-Betlehem-0
UNTUK MENEMANI LIBURAN NATAL ANDA
KAMI MENGANGKAT SAJIAN UTAMA BERJUDUL “Natal di Betlehem”Dalam edisi 52 terbit Minggu 27 Desember 2009

Dalam Sajian tersebut dikuak hal ikwal perayaan Natal di Betlehem. Pada bagian pertama, kami sajikan pengalaman dua orang peziarah asal Indonesia merayakan Natal di Betlehem dalam tulisan berjudul “Keyakinan Menebal Kekaguman Memuncak”. Bagian kedua, F. Rahardi menuliskan gambaran tentang perjalanan Yusuf & Maria menuju Betlehem dengan detail keadaan alamnya dalam “Dari Nazaret ke Betlehem”. Dan bagian ketiga, yang merupakan bagian akhir dari tema Betlehem berjudul “Betlehem Rumah Roti dan Daging” mengangkat seluk beluk kota Betlehem. Sebagai tambahan, kami lengkapi sajian ini dengan tradisi seputar Natal dalam tulisan berjudul “Dari Gua, Cemara, Sampai ke Pointsettia” dan “Asal-Usul Santa Klaus”. Tunggu sajian ini di Bulan Desember akhir nanti.

(INFO)

Jika Lembaga atau Organisasi anda ingin mengungkapkan suka cita Natal 2009 & Tahun Baru 2010, berikut kami sampaikan tarif iklan di Majalah HIDUP:

A Ukuran 1/4 Hal B/W (9,2 cm x 12 cm) Rp 1.100.000,-
B Ukuran 1/2 Hal B/W (19 cm x 12 cm) Rp 2.090.000,-
C Ukuran 1 Hal B/W (19 cm x 25 cm) Rp 3.960.000,-
D Ukuran 1/4 Hal F/C (9,2 cm x 12 cm) Rp 1.650.000,-
E Ukuran 1/2 Hal F/C (19 cm x 12 cm) Rp 2.750.000,-
F Ukuran 1 Hal F/C. Dalam FC (21,5 cm x 27,5 cm) Rp 4.950.000,-
Harga sudah termasuk PPN 10%

Silahkan hubungi Bagian Iklan Majalah HIDUP

Telp. 021-3857859 / Fax. 021-3451381 / E-mail: hidup@centrin.net.id

Majalah-HIDUP-Natal-di-Betlehem-1