//
archives

Archive for

Ekonomi Syariah

Ekonomi_SyariahSajian Utama:

Bertitik tolak dari pidato Paus Benediktus Oktober 2008 yang menyoroti aspek moral sistem keuangan syariah, HIDUP mencoba menggali hal tersebut ke dalam beberapa aspek. Yang pertama menyinggung sistem ekonomi syariah yang dikeluarkan surat kabar resmi Vatikan L’Osservatore Romano pada 3 Maret 2009. Bagian kedua mengangkat pengalaman menarik dari Susi Susanti, mantan pemain nasional bulu tangkis yang kini bermitra dengan bank syariah. Tulisan ketiga tentang tantangan pengembangan Bank Syariah dewasa ini yang dipaparkan oleh komisaris BRI Syariah dan ketua Tanfidziyah NU Musthafa Zuhad Mughni. Sedangkan pada tulisan keempat memuat pandangan mantan staf KOMSOS Keuskupan Agung Semarang (KAS) Joseph Tjandra Irawan yang mengingatkan umat Katolik untuk melihat secara jernih pernyataan Paus Benediktus XVI tentang ekonomi syariah. Dan pada bagian akhir kami sajikan tulisan F. Rahardi yang membahas asal muasal sistem keuangan syariah yang dikaitkan dengan ALKITAB Perjanjian Lama.

KUTIPAN LEAD SAJIAN UTAMA (SAJUT):

Berpaling ke Ekonomi Islam

Pada mulanya adalah tulisan yang dikeluarkan L’Osservatore Romano, surat kabar resmi Vatikan. Edisi bertanggal 3 Maret 2009 itu menyinggung soal sistem ekonomi syariah yang banyak digunakan negara penganut hukum Islam. Dikatakan, “Prinsip yang beretika yang diusung perbankan Islam dapat mendekatkan bank dengan para nasabahnya….

Lucia Fransisca Susi Susanti: ”Karena Ini Bisnis…”

Setelah berhenti dari dunia perbulutangkisan, Susi Susanti berkiprah di dunia usaha. Sebagai mitra berbisnis ia memilih sistem bank syariah di salah satu bank swasta. IA pun menjadi ikon bank syariah. Apa alasannya? Berikut petikan wawancara kontributor HIDUP, Agustinus Sudarmanto, di rumahnya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat, 28/8….

Musthafa Zuhad Mughni: Tidak Mudah Kembangkan Bank Syariah Baca lebih lanjut

SRI di Tangan Gatot (Konferensi Petani Asia Tenggara di Keuskupan Purwokerto)

Sri_1Sajian Utama:

GATOT membeli beras hitam satu kilogram. Di antara beras itu, ia mendapatkan empat butir gabah. Bermodal empat butir itulah ia mengembangkan bibit padi beras hitam. ”Bertani organik itu juga wujud penghormatan kepada Sang Pencipta dengan melestarikan ciptaan-Nya,” papar warga Paroki St Agustinus Purbalingga ini. Kini, Gatot memiliki koleksi 100 jenis benih padi lokal. Rumahnya yang sederhana menjadi ’bank’ benih padi yang telah dikoleksinya sejak tahun 1997. Kisah empat bulir benih itu pun diceritakan Gatot kepada tujuh petani dan pendamping petani yang live-in di rumahnya. Mereka, termasuk Gatot, adalah peserta South East Asia Farmers’ Conference yang berlangsung di Keuskupan Purwokerto, 9-16 Agustus lalu. Konferensi diikuti 35 petani dan pendamping dari Karitas Negara Asia Tenggara, seperti Kamboja, Thailand, Myanmar, Filipina, Indonesia, serta Mongolia. Kegiatan ini digelar Karitas Asia dengan panitia pelaksana Karitas Indonesia (Karina) dan Karitas Purwokerto (Karito). Uskup Purwokerto, Mgr Julianus Sunarka SJ membuka konferensi pada Minggu, 9 Agustus.

KUTIPAN LEAD SAJIAN UTAMA (SAJUT):

Empat Butir Padi Terus Bergulir

Yohanes Baptista Gatot Surono, petani di Desa Kembangan, Bukateja, Purbalingga, Jawa Tengah, bercerita tentang benih padi beras hitam koleksinya. Benih itu ia peroleh dengan susah payah…

Saling Tular Semangat

PANEN sengaja ditunda demi menyambut kedatangan tamu Konferensi Petani Asia Tenggara. Maka, Ayuna pun dapat menyabit rumpun-rumpun padi dan merontokkan padi di Desa Kembangan, Purbalingga. Ayuna telah menjadi petani selama 30 tahun…

Kembalinya “Dewi” Sri

Suatu ketika, Prabu Sri Bawono meninggalkan Keraton Dwarawati dan menjelma menjadi Dewi Sri, karena masyarakat meninggalkan pertanian tradisional. Sistem pertanian demikian ikut membunuh binatang kesayangan sang prabu…

Gereja & Pertanian Organik Baca lebih lanjut

Devosi Kerahiman Ilahi

Rektorku Telah Pergi (Prof Dr Dibyo Prabowo [1939-2009])

Retorku1Sajian Utama:

Lagu “Gereja Bagai Bahtera” berkumandang mengiringi kepergiannya, seusai Misa pemberkatan arwah di lobi Kampus Thomas Aquinas Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Jumat, 21/8. Lagu ini merupakan lagu kesayangan Almarhum Prof Dr Agustinus Dibyo Prabowo MSc.Bagi Uskup Agung Semarang Mgr I Suharyo Pr, syair lagu gerejani itu merupakan kunci untuk memahami pribadi Profesor Dibyo. Ia kenal Dibyo sejak l996, saat sama-sama menjadi Pengurus dan Anggota Badan Pembina Yayasan Panti Rapih. ”Sejak awal perjumpaan dengan beliau, saya merasakan pribadi Pak Dibyo sangat istimewa. Dalam perjalanan waktu, memang sungguh demikian,” tutur Mgr Suharyo usai memimpin Misa pemberkatan bagi Almarhum.

KUTIPAN LEAD SAJIAN UTAMA (SAJUT):

Penyemangat dan Banyak Teman

Rencana dan jalan Tuhan memang bukan rencana manusia. Demikian (kalau boleh dikatakan) perjalanan hidup Almarhum Prof Dr Dibyo Prabowo MSc. TAHUN 1968, pria kelahiran Blitar Jawa Timur, 5 Desember 1939 ini meng­ambil Master di International Rice Research Institut Los Banos, Filipina. Di kampus inilah Pak Dibyo menemukan belahan jiwanya, seorang gadis Manila, Filipina bernama Minaflor S. Reyes yang saat itu bekerja di bagian accounting…

Rektor yang Humanis

Lagu ”Gereja Bagai Bahtera” berkumandang mengiringi kepergiannya, seusai Misa pemberkatan arwah di lobi Kampus Thomas Aquinas Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Jumat, 21/8. Lagu ini merupakan lagu kesayangan Almarhum Prof Dr Agustinus Dibyo Prabowo MSc…

Sahabat yang Baik

”Banyak teman kami, terutama yang di Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia Perhepi), menganggap Prof Dr Dibyo Prabowo, MSc itu adik saya.” DEMIKIAN kesan Bambang Ismawan terhadap sahabatnya, Prof Dr Dibyo Prabowo, MSc, seperti diungkapkan kepada kontributor HIDUP, Paul D.F. saat diwawancarai di Wisma Hijau, Cimanggis, Selasa, 1/9…. Baca lebih lanjut

Kristen di Mata Islam

Puspitasari1Sajian Utama:

SITI Eka Puspitasari berkeyakinan bahwa semua orang dipersatukan oleh nilai-nilai dan sikap-sikap etis dasar. Keagamaannya menunjang nilai-nilai dasar kemanusiaan yang ditanamkan oleh Tuhan dalam hati setiap orang. Keislamannya membuka diri terhadap nilai-nilai yang berakar dalam hati nurani setiap manusia. ”Saya bersama dengan teman-teman pondok pernah piknik ke Gua Maria Tritis di Wonosari. Saya pernah tidur dan mencuci bersama tamu-tamu Kristen dan Katolik dari Universitas Kristen Satya Wacana dan Universitas Sanata Dharma di Edi Mancoro,” kata Pita, Santri Pondok Pesantren Edi Mancoro Salatiga, Jawa Tengah. Awal bulan Juli, 18 frater, mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta, tinggal di Edi Mancoro selama 2 minggu. ”Dunia telah berubah, demikian pula dengan konteks misi Gereja. Tantangan di ’tapal batas’ mendesak kita untuk ikut memeluknya,” jelas Dr Y.B. Heru Prakosa SJ, dosen Islamologi di Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

KUTIPAN LEAD SAJIAN UTAMA (SAJUT):

Ketika Mereka Nyantri di Pondok

Para santri Pondok Pesantren Edi Mancoro, Gedangan, Tuntang, Salatiga, Jawa Tengah menerima kunjungan 18 frater (calon imam Gereja Katolik) pada 3 Juli 2009. Mereka didampingi dua pastor dari Jakarta dan Yogyakarta….

Siti Eka Puspitasari: “Tolong-Menolonglah”

PITA (20) berkeyakinan bahwa semua orang, meskipun berbeda, dipersatukan oleh nilai-nilai dan sikap-sikap etis dasar. Keagamaannya menunjang nilai-nilai dasar kemanusiaan yang ditanamkan oleh Tuhan dalam hati setiap orang. Keislamannya membuka diri terhadap nilai-nilai yang berakar dalam hati nurani setiap manusia. Keagamaan yang benar membuat kiai dan para santri Edi Mancoro menjadi toleran…

Choirul Huda: NU-nya Umat Kristen

“ORANG Katolik itu NU-nya umat Kristen.” Demikian Choirul Huda (26), mantan Ketua PMII ranting Salatiga. NU dan Katolik memiliki kemiripan dalam prinsip-prinsip kemanusiaan. Pandangan itu terwujud dalam bentuk perjuangan bagi orang kecil, miskin, dan tertindas….

K.H. Mahfudz Ridwan: Yesus Kan Juru Selamat… Baca lebih lanjut