//
archives

Archive for

LUGO

Cover-Lugo

Sajian Utama: PRESIDEN Paraguay Fernando Lugo adalah mantan uskup. Ia terpilih secara demokratis. April 2008, Uskup Fernando Lugo membuat dunia terhenyak. Ia memenangkan pemilu mengalahkan saingannya, Blanca Ovelar dari Partai Colorado. Kemenangan ini membuatnya tenar karena ia berhasil mengakhiri dominasi Partai Colorado yang berkuasa di Paraguay selama 60 tahun. Tetapi, setahun setelahnya, isu skandal seks menerpa dirinya. Mengejutkan, Lugo sendiri juga mengakui secara jujur bahwa ia mempunyai anak dari seorang wanita bernama Viviana Carillo, yang dikenalnya saat masih menjadi uskup. Apakah dukungan kepada Lugo luntur? Sekitar 89.6 persen warga Paraguay menganut agama Katolik Roma, 6.2 persen menganut Kristen Evangelist, 1.1 persen Kristen Protestan, sisanya menganut agama lain. Katolik menjadi agama resmi Paraguay. Negara mengeluarkan anggaran khusus sebesar $2,259 untuk upah uskup, vikaris jenderal, dan sekretaris keuskupan.

KUTIPAN LEAD SAJIAN UTAMA (SAJUT):

Lugo: Skandal Seks vs Teologi Pembebasan

Peringatan setahun Fernando Lugo menjadi Presiden Paraguay ditandai dengan peristiwa pelik. Ia terkena isu skandal seks. Selama menjadi uskup, Lugo dituduh mempunyai anak dari tiga wanita…

Sekilas Teologi Pembebasan

TEOLOGI pembebasan menurut Phillip Berryman adalah pengejawantahan iman kristiani melalui penderitaan, perjuangan, dan harapan kaum miskin serta sebuah kritik sosial terhadap iman Katolik dan kristianitas melalui mata orang-orang miskin…. Baca lebih lanjut

Sekolah Murah Sekolah Mahal

Sekolah

Sajian Utama: Prinsipnya Lembaga Pendidikan Katolik harus berpihak pada kaum miskin. Ini dikatakan Ketua Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK) dan anggota Komisi Pendidikan KWI, Pastor Karolus Jande. Pada praktiknya, bernarkah sekolah katolik mahal? Mahal atau murah itu relatif. Sajian Utama edisi ini, menampilkan enam profil sekolah, lima di antaranya sekolah Katolik: sekolah berasrama – SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan, Santa Laurentia Serpong yang menggunakan Bahasa Indonesia dan Inggris sebagai bahasa pengantar, Santa Ursula yang berada di pusat kota Jakarta, Mardi Yuana Bojonglopang Sukabumi yang seluruh muridnya beragama Islam dan hanya memiliki seorang guru Katolik, dan SMP Yos Sudarso Jeruklegi yang justru memberi bantuan kepada orangtua siswa kurang mampu. Satu lagi adalah Sekolah Qaryah Thayyibah Salatiga yang telah membuktikan bahwa untuk mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu, anak-anak tidak perlu membayar mahal.

KUTIPAN LEAD SAJIAN UTAMA (SAJUT):
Sekolah Santa Ursula, Jakarta: “Wajar, Bahkan Murah”
Mahal atau murah itu relatif. Tetapi, melihat letak sekolah yang strategis dan citra unggul sekolah ini, bisa jadi orang akan keder. BERDIRI di atas lahan sekitar 2,5 ha, Sekolah Santa Ursula Jl Pos Jakarta menyatu dengan Biara Suster Ordo Sanctae Ursulae (OSU). Dari segala sudut Kota Jakarta, sekolah yang terletak persis di tengah Kota Jakarta ini amat mudah dijangkau, dengan kendaraan…

Sekolah Mardi Yuana Bojonglopang, Sukabumi: “Miskin Tapi Berprestasi”
Memasuki area SMP Mardi Yuana Bojonglopang, Sukabumi, seperti memasuki ruang hampa. Hanya ada lapangan terbuka dengan tiang bendera dan tiang basket tanpa jaring. ADA dua gedung, besar dan kecil. Gedung besar berisi kelas-kelas, ruang guru, dan ruang kepala sekolah. Atapnya asbes, catnya kumuh. Sedangkan gedung yang lebih kecil, tampak lebih baru. Di pojok gedung baru tampak ruangan berpintu ganda yang digembok… Baca lebih lanjut

Bom Ritz Carlton & Marriott 2009

Rekan-rekan pembaca sampul hidup yang terkasih.

Kami ajak anda untuk mendoakan negara Indonesia tercinta.

Supaya peristiwa pengeboman yang terjadi tadi pagi di hotel Ritz Carlton & Marriott Kuningan, Jakarta tidak terjadi lagi.

Semoga Tuhan yang mahakasih melindungi kita semua dan bangsa tercinta kita ini.

Amin.

Gereja dan Gerakan SAMIN

Gereja-dan-Samin

Sajian Utama: “Keberanian dan kerelaan mengorbankan kepentingan diri demi cita-cita bersama yang lebih besar adalah semangat yang dapat dipelajari umat Katolik dari Sedulur Sikep,” demikian Koordinator Pusat Sejarah dan Etika Politik Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Pastor Dr F.X. Baskara Tulus Wardaya SJ. Sedulur Sikep dikenal juga dengan masyarakat Samin. Kata “Samin” sendiri sudah salah kaprah, bahkan berkonotasi negatif. Samin diartikan sebagai orang aneh, bodoh, tidak mau mengikuti perkembangan zaman dan teknologi, selalu mengisolasi diri, dan membentuk komunitas sendiri. Padahal, Gunritno tidak asing dengan laptop, internet, telepon seluler. Mereka tidak tinggal dalam satu wilayah khusus, melainkan menyebar di daerah-daerah sekitar Blora, Pati, Purwodadi, dan Bojonegoro. Konsentrasi terbesar Sedulur Sikep memang di Sukolilo, Pati. Tetapi, mereka bermukim di tengah masyarakat heterogen.

KUTIPAN LEAD SAJIAN UTAMA (SAJUT):

“Perlawanan Damai Gunritno”

Siang itu, aku bertandang ke Sedulur Sikep – masyarakat Samin – di Desa Sukolilo, Pati, Jawa Tengah. Teriknya sinar mentari berpadu dengan bentangan bukit-bukit kapur, setia menemani empat jam perjalananku dari Blora. NAMUN, kelelahan dan kehausan sirna tatkala aku sampai di rumah Gunritno, seorang tokoh muda Sedulur Sikep. Kesejukan langsung menerpaku berkat harmoni rindangnya pepohonan, arsitektur rumah yang didominasi kayu jati dan ventilasi cukup besar. …

“Kerjasama Gereja dengan Sedulur Sikep” Baca lebih lanjut

CU Beraset Rp 20 Miliar

COVER 01 H28

Sajian Utama: SAAT ini, dunia perkreditan bukan monopoli dunia perbankan. Selain bunganya tinggi, keuntungannya pun menjadi milik bank itu. Berbeda dengan Credit Union (CU) alias Koperasi Kredit, kini berkembang di Kalimantan, Jawa, dll. Dari kesaksian sejumlah anggota CU Bina Seroja, Cawang, Jakarta Timur, misalnya, mereka mengaku diuntungkan, ekonomi rumah tangganya terbantu. Namun keberadaan CU ini belum menjadi primadona kepercayaan masyarakat umum, karena menurut pengamatan Pastor A. Sumarwan SJ, CU masih dilihat sebagai gerakan koperasi kecil-kecilan. Gereja Katolik juga selalu mendukung upaya-upaya yang mendorong terwujudnya kesejahteraan umum, seperti peluncuran Ensiklik terbaru Paus Benediktus XVI, akhir Juni lalu. Ayo pilih mana, CU atau Bank?

KUTIPAN LEAD SAJIAN UTAMA (SAJUT):

“Bermula dari Satu Meja” (Karya Anton Sumarjana)

Dengan menomorsatukan karakter, CU Bina Seroja tumbuh dan berkembang mencapai 1.546 anggota. Asetnya lebih dari Rp 20 miliar. DENGAN satu meja beroda, CU Bina Seroja mulai melayani anggota pada 1 September 1985 (berdiri 10 Agustus 1985), di emperan pastoran Bidaracina, Jakarta Timur. Setelah selesai, meja disingkirkan karena tempatnya akan dipakai untuk keperluan …

“Lebih Sejahtera” (Wawancara dgn Pastor Antonius Sumarwan SJ/Pastor rekan paroki Blok Q, Jakarta)Pastor-Marwan-&-Muhamad-Yunus

Banyak orang belum percaya kepada CU karena mereka masih melihatnya sebagai gerakan koperasi yang kecil-kecilan. DEMIKIAN pengamatan Pastor Antonius Sumarwan SJ (32), aktivis CU Bererod Gratia, Jakarta yang sedang mengembangkan CUMI (Credit Union Microfinance Innovation), sebagaimana dituturkan kepada Kontributor HIDUP, Agus Sudarmanto, di Pastoran Blok Q, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa, 30/6. …

“Koperasi dan Ensiklik Paus” (Karya: Djamester Simarmata) Baca lebih lanjut

1,5 Abad Serikat Jesus Indonesia

1,5-Abad-Jesuit-Indonesia

Sajian Utama: SERIKAT Jesus (SJ) adalah Ordo Imami yang pertama datang di kepulauan Nusantara. Dua Yesuit – anggota – misionaris Belanda menginjakkan Gereja muda di Hindia Belanda 9 Juli 1859. Sejak itu para Yesuit dari Belanda (kira-kira satu abad kemudian, pergi dan datang dari Jerman, Filipina, Swiss) bekerja dan merasul di hampir seluruh Negara Indonesia sekarang ini. Sekitar tiga perempat abad terakhir SJ terutama bekerja di Keuskupan Agung Semarang dan Jakarta. Sajian Utama kali ini bercerita mengenai kiprah kehadirannya yang sangat mewarnai Gereja dan masyarakat Indonesia.

KUTIPAN LEAD SAJIAN UTAMA (SAJUT):

Provinsial SJ Indonesia: “Pendosa yang Dipanggil Allah” (Robertus Bellarminus Riyo Mursanto SJ)

Visi Romo dalam memimpin Provinsi ini?

“Serikat Jesus (SJ) Provinsi Indonesia adalah kelompok sahabat yang dipanggil untuk melayani Gereja, bekerja di wilayah batas, berdialog, membela orang miskin, membangun budaya kasih dan melestarikan lingkungan.” Ini bukan rumusan saya sendiri, melainkan hasil pengolahan refleksi bersama seluruh anggota provinsi, dilakukan mulai dari perorangan, dalam komunitas, yang akhirnya dipercayakan pada sekelompok kecil perumus. …

“Dari Imam Gajian ke Formasi Pemimpin” (karya: F. Rahardi) Baca lebih lanjut