//
you're reading...
Uncategorized

Gereja dan Sengketa Tanah di Papua

Edisi No 21, Tanggal 24 Mei 2009
scan0012
Pusat Kajian Pembangunan Masyarakat (PKPM) Unika Atma Jaya Jakarta, pada 2007 melakukan penelitian tanah adat di Distrik/Kecamatan Aradide (etnis Mee), Kabupaten Paniai, Papua. Penelitian dilanjutkan tahun 2008 di Distrik Sugapa (etnis Moni). Kepemilikan tanah di pedalaman Papua, selama ini bersifat kolektif, dan secara administratif tidak terdokumentasikan. Batas-batas tanah dituturkan secara lisan. Batasnya berupa gunung, batu, sungai, dan tanda-tanda alam lainnya. Bahkan batas tanah ada yang berupa suara dari dalam tanah setelah tokoh adat bersiul. Ini akan menjadi persoalan tersendiri saat mereka bersentuhan dengan pemerintah, pendatang, dan investor. Bagaimana Gereja menyikapi? Dekenat Moni-Puncak Jaya mengadakan musyawarah pastoral (Muspas), yang menyepakati dibentuknya Dewan Adat yang menjadi wakil masyarakat dalam penyelesaian masalah yang muncul sekaligus mempersiapkan masyarakat menghadapi perubahan yang akan terjadi.
Wasalam,
Pemerhati HIDUP

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: